Memasuki tahun ajaran baru ada sebuah tradisi di setiap sekolah untuk menyambut kedatangan siswa baru (kelas I untuk SD, kelas VII untuk SMP, dan kelas X untuk SMA) yaitu Masa Orientasi Siswa atau MOS atau kalau di Universitas disebut Ospek. Biasanya acara ini diselenggarakan selama 3 hari di awal hari-hari pertama masuk siswa dengan tujuan untuk mengenalkan siswa baru dengan lingkungan sekolah tempat dia akan belajar. Yang cukup memprihatinkan adalah seringkali pelaksanaan MOS lebih mengarah kepada ajang perpeloncoan dan balas dendam (karena tahun sebelumnya juga diperlakukan sama) daripada pengenalan kepada lingkungan belajar siswa itu sendiri. Walaupun kadang dibungkus dengan embel-embel tugas dan juga alasan klise “untuk melatih kreativitas mereka..” namun tetap saja nuansa perpeloncoan tetap terasa. Pemberian tugas-tugas yang sama sekali tidak ada manfaatnya, menyulitkan dan aneh, dan kadang mempermalukan diri sendiri adalah salah satu ciri dari perpeloncoan itu sendiri.
Papalia, et. Al. (2004) menyatakan bahwa perpeloncoan adalah perilaku agresif yang disengaja dan berulang untuk menyerang target atau korban, yang secara khusus adalah seseorang yang lemah, mudah diejek dan tidak bisa membela diri. Sedangkan bila kita mengkhususkan perpeloncoan yang terjadi di lingkungan sekolah (school bulyying) maka dapat diambil sebuah pengertian yang diberikan oleh Riauskina, Djuwita, dan Soesetio (2005). Mereka mengartikan School bullying sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan, terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut.
Ada 5 kategori perilaku perpeloncoan tersebut, yaitu :
1. Kontak Fisik Langsung
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain
2. Kontak Verbal Langsung
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah seperti mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip.
3. Perilaku non-verbal langsung
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah seperti melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya disertai oleh perpeloncoan fisik atau verbal.
4. Perilaku non-verbal tidak langsung
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah seperti mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng.
5. Pelecehan seksual
Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah perilaku-perilaku yang dapat dikategorikan sebagai perilaku agresi fisik dan bisa juga verbal.
Perlu peran aktif dari siswa, orang tua, dan juga pihak sekolah untuk menanggulangi kegiatan yg tidak berguna seperti itu dan mengubah sistem yang ada agar MOS menjadi lebih baik.
Saya salut dengan pihak Dinas Pendidikan yang tanggap dengan masalah ini dengan mengeluarkan peraturan yang ketat agar tidak ada perpeloncoan waktu MOS.
Bagaimana MOS yang baik itu?
MOS yang baik tentu saja adalah menyatukan paradigma tentang sekolah dan kehidupan tentang remaja.Selain menyambut kedatangan siswa baru dan memperkenalkan lingkungan sekolah, MOS juga merupakan sarana penanaman nilai-nilai kedisiplinan, akademik dan nilai-nilai sosial masyarakat. Karena itu, kegiatan MOS haruslah diisi kegiatan positif, bukan kekerasan. Di SMA N 1 Bantul sendiri pelaksanaan MOS diawasi langsung oleh guru. Sebisa mungkin kegiatan orientasi siswa ini benar-benar orientasi.
Kegiatan yang dilakukan lebih banyak kepada pengenalan lingkungan sekolah, seminar-semina dan talkshow yang berkerja sama dengan pihak kepolisian dan juga dinas kesehatan. Kalaupun ada tugas yang diberikan kepada siswa, tugas tersebut merupakan cerminan tugas yang akan dihadapi siswa itu sendiri di proses belajar ke depan mengingat status SMA N 1 Bantul sebagai sekolah RSBI. Dengan demikian, suatu lingkungan yang menyenangkan dan kondusif untuk
belajar akan semakin cepat dan mudah terbentuk. Selalu ingat dalam
pikiran masing-masing, bahwa siswa baru adalah adik-adik kita yang
membutuhkan bimbingan. Bukan suatu objek yang dapat kita perlakukan
semau kita. Semoga tulisan ini bisa sebagai ajang sharing buat teman-teman pendidik dimanapun anda berada. Sekian dan Terimakasih
sumber gambar :
http://i274.photobucket.com/albums/jj277/terrence300992/MOS0809257.jpg

Team olimpiade SMA Negeri 1 Bantul berhasil meloloskan 4 siswanya ke ajang Olimpiade Sains Nasional 2009 di Jakarta masing-masing atas nama Sri Mulyani, Wulandari (Ekonomi), Bayu purwanugraha (Kimia) dan Bernadus Setyoaji (Matematika). Mereka akan berkompetisi dengan siswa seluruh Indonesia. Tahun 2008 lalu SMAN 1 Bantul meloloskan 6 siswa dengan memperoleh 1 perak untuk Kebumian atas nama Latifah Al-hakimi. Selamat atas prestasi kalian, Bunda akan mendukung sepenuhnya baik itu melalui bimbingan maupun doa. Semoga sukses buat kalin semua!!!
Hiruk pikuk penerimaan siswa baru sudah berakhir. Ada senyum terpancar bagi anak didik yang berhasil masuk di sekolah yang dia inginkan dan ada juga yang legowo menerima kenyataan saja. Rutinitas ini setiap tahun nyaris hampir sama. Namun rutinitas ini pula yang membuat orang tua murid harus memutar otak agar bisa memenuhi biaya yang bisa dikatakan tidak sedikit. Bagi siswa baru pasti selalu ada yang namanya uang gedung, uang seragam, uang kegiatan dan lain lain. Apalagi bagi sekolah-sekolah yang favorit (atau cuma merasa favorit) dan kelas RSBI ke atas tentu saja mematok bayaran yang lebih tinggi daripada sekolah-sekolah lain yang -maaf- hanya kelas standar nasional kebawah. Bagi siswa yang akan naik kelas, masih ada biaya untuk daftar ulang untuk berbagai macam hal.
Sebelumnya saya memulai postingan ini saya mau mengucapkan kepada 192 siswa yang sudah diterima di SMA Negeri 1 BAntul setelah melalui tahapan seleksi yang panjang dan ketat. Semoga kalian bisa mengembangkan bakat kalian di sekolah ini dan dapat meraih apa yang kalian cita-citakan :D.
Ada hal yang menarik di SMA Negeri 1 Bantul pada tahun ajaran 2009/2010. Di tahun ini SMA Negeri 1 Bantul untuk Penerimaan Siswa Baru menggunakan sistem yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya pada proses Penerimaan Siswa Baru di tahun-tahun sebelumnya, casis(calon siswa) cukup menggunakan NEM hasil UAN untuk bisa masuk ke SMA Negeri 1 Bantul. Pada tahun ini pihak sekolah mengadakan test masuk untuk bisa bersekolah di SMA Negeri 1 Bantul. Test meliputi kemampuan Umum, Bahasa Inggris, Tes Potensi Akademis, dan juga wawancara. Nilai UAN siswa berpengaruh hanya sekitar 25% dari nilai total. Ternyata respon dari casis sangat luar biasa, dari 192 kursi yang disediakan pendaftarnya ada lebih dari 500 orang baik dari dalam kota maupun luar kota.
Diumumkan kepada seluruh siswa SMA Negeri 1 Bantul kelas X dan kelas XI, bahwa raport semester genap bisa diambil secara pribadi pada





